Skip to main content

Pertamakali Berangkat Menuju Kampus

 Ini terjadi belum lama, kisah ini terjadi sewaktu aku dalam perjalanan naik kereta api menuju kampus politeknik keuangan Negara STAN. Ini bukanalah pengalaman berkesan saya pribadi, tapi ini adalah kesan pribadi yang saya dapat dari peristiwa orang lain.

Saat itu aku berangkat dari purwokerto menuju pasar senen bersama 4 calon mahasiswa mahasiswi baru PKN STAN. Kereta itu berangkat pukul 10:00 AM dan estimasi sampai ialah pukul 15:00PM.

Cukup banyak waktu yang terbuang di dalam kereta, udah dingin, suasana bikin ngantuk, dan nggabisa makan siang pula. Tidur ngga nyenyak, bangun tak tenang, karena lapar dan bosan terlalu lama duduk di kereta. Dalam rasa bosanku itu, aku mencoba untuk tidur di kereta. Tak jarang pula mataku selalu terbuka lagi mengganggu waktu tidurku karena tak nyaman rasanya tidur di kereta. Saat itu saya rasa putus asa, letih, kurang semangat.

Suatu saat dalam keletihan saya itu, mata saya terbuka, lalu ku tutup kembali, lalu dengan tiba-tiba mataku ku buka lagi dengan cepat. Ada sesuatu aneh yang jarang ku lihat. Saat itu aku duduk membelakangi posisi orang duduk pada umumnya, tempat duduk ku ku hadapkan ke belakang. Dan apa yang terjadi ? di sela–sela sangat sempit diantara tempat duduk paling belakang kereta dgn tembok, aku lihat seorang kakek tua. ku rasa dia berdiripun agak sempoyongan. Apa yang dia lakukan di belakang gerbong kereta itu ? bapak tua itu sedang menyempatkan ibadah disaat kondisi sekitar banyak orang yang lalai, malas-malasan, mendengarkan music pake headset, bengong di kereta. Saat itu sekitar jam 13:00PM dengan alat seadanya tanpa sajadah dan tanpa memperhatikan kiblat dimana arahnya si kakek itu sembunyi2 melaksanakan sholat. Ku lihat dia berdirinyapun lama, berdoanya lama dalam tiap tahap-tahap sholatnya. Entah apa sedang sedang dia tunaikan waktu itu, sedang meminta restu dalam perantauan atau apa saya tidak tahu.

Sela-sela antara bangku paling belakang kereta dengan tembok itu sempit sekali. Terpikirkan olehku waktu itu kenapa tidak sholat saja di selasar jalan gerbong kereta, tempatnya lebih enak dan leluasa. Mungkin si kakek itu tidak mau menyulitkan orang lain jika ada yang mau berjalan menuju wc, atau bahkan menghalangi petugas kereta yang biasanya lewat. Kakek itu lebih memilih melaksanakan ibadah di tempat sempit kecil sekali, yang penting bsa sholat dengan tenang dan berdoa berlama-lama menghadap sang kuasa.

Comments